Senin, 24 Februari 2020




JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
PERCOBAAN 03

JURNAL PERMURNIAN ZAT PADAT


DISUSUN OLEH:
NAMA: RADIAH
NIM: A1C118005
         KELAS: REGULER A 2018

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020





PERCOBAAN-3


I.     JUDUL         : PERMURNIAN ZAT PADAT
II.    HARI, TANGGAL: RABU, 26 FEBRUARI 2020
III.  TUJUAN PERCOBAAN  :
                  Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
  1.   Dapat melakukan kristalisasi dengan baik
  2.   Dapat memlilih pelarut sesuai untuk rekristalisasi
  3.   Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
  4.   Dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi



IV.  PRINSIP TEORI

             Suatu kristal bisa terbentuk jika suatu larutan tersebut dalam kondisi lewat jenuh. Dimana kondisi ini terjadi akibat pelarut yang digunakan tidak bisa melarutkan zat terlarut atau jumlah zat terlarut sudah melewati kapasitas pelarut. Sehingga jika terjadi kondisi yang demikian maka ada salah satu cara yaitu dengan mengurangi jumlah pelarut agar kristal tersebut bisa terbentuk sehingga kondisi lewat jenuh bisa dicapai. Ada 4 cara yang bisa dilakukan dalam proses pengurangan pelarut yaitu dengan cara penguapan, pendinginan, penambahan senyawa lain, dan reaksi kimia (Zulfikar, 2011).

       Menurut Tim Kimia Organik I (2016), Salah satu cara yang paling banyak digunakan dan efektif dalam memurnikan zat padat organik adalah dengan cara rekristalisasi. Rekristalisasi adalah cara kristalisasi secara selektif suatu senyawa dari campuran zat padat, dengan melarutkan zat padat dalam pelarut yang sesuai dengan titik didihnya, lalu campuran tersebut yang masih panas disaring untuk memisahkan zat padat tersuspensi atau tidak larut didalam larutan. Metoda rekristalisasi didasarkan pada prinsip yaitu senyawa tertentu dalam campuran memiliki sifat kelarutan tertentu yang tidak sama dari campuran lainnya dalam suatu sistem tertentu. Dalam percobaan rekristalisasi diusahakan agar penggunaan jumlah pelarut yang digunakan sedikit mungkin sehingga jumlah zat paling banyak bisa didapat kembali sewaktu proses pendinginan larutan panas. Sebelum membuat larutan kita harus memperhitungkan dahulu jumlah minimum pelarut agar larutan yang dibuat tidak terlalu pekat, setelah itu baru ditambahkan sedikit demi sedikit kelebihannya. Penurunan suhu dapat diatur kecepatannya supaya tidak terlalu cepat.
         Pelarut cair adalah pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses rekristalisasi. Karena pelarut cair tidak reaktif, murah harganya dan setelah dilakukan proses penguapan akan lebih mudah didapat kembali. Adapun ciri-ciri pelarut yang baik adalah

  1.             Tidak bereaksi dengan zat padat yang akan direkristalisasi
  2.            Pada zat padat harus memiliki kelarutan terbatas (sebagian) atau relatif tidak larut dalam pelarut, pada suhu kamar ataupun suhu kristalisasi
  3.             Memiliki kelarutan yang tinggi (larut baik) dalam zat padatnya pada suhu didih pelarutnya
  4.             Titik didih pelarut tidak melampui titik leleh zat padat yang mau direkristalisasi
          Diperlukan pendekatan dan teknik khusus sebelum dilakukan pemurnian suatu zat padat dari campurannya. Pendekatan praktisnya yaitu dengan mengenal atau mengidentifikasi zat padat yang ingin dimurnikan dan mengetahui sifat-sifat fisik maupun kimianya. Dalam menentukan keberhasilan pemisahan zat padat yang akan dipisahkan kita harus mempunyai pemahaman yang bagus tentang sifat fisik dan kimia zat padat. Sebagai praktikan juga harus mengenal apa saja jenis-jenis pelarut organik dan gradien kepolarannya, seperti ketika praktikan mencampurkan dua atau tiga jenis pelarut untuk memisahkan suatu zat padat. Ada faktor teknis yang digunakan dalam permurnian zat padat seperti teknik kristalisasi, sublimasi dan khromatografi. Teknik mana yang akan dipilih dan sesuai itu tergantung dengan kompleksitas kemurnian zat padat tersebut dan sifat fisik mau sifat kimianya. Jika suatu campuran makin kompleks maka teknik yang digunakan harus kompleks juga untuk memisahkan http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/.

         Kristalisasi adalah salah satu cara yang digunakan dalam permurnian zat denga pelarut, dimana pada proses ini terjadi pengendapan. Senyawa organik dipengaruhi oleh pelarut dalam proses kristalisasi. Jika pelarut yang dibawa dari zat terlarut yang membentuk padatan dan tergantung dalam struktur kristal-kristal zat terlarut tersebut dinamakan pelarut kristalisasi (Oxtoby, 2011).

       Sublimasi adalah cara yang digunakan dalam perubahan wujud suatu zat yaitu dari wujud padat ke wujud gas atau dari wujud gas ke wujud padat. Partikel tersebut akan menyublim menjadi gas ketika partikel penyusun suatu zat padat dilakukan penaikan pada suhunya, dan sebaliknya jika dilakukan penurunan pada suhu gas maka gas tersebut akan berubah menjadi padat. Dalam melakukan sublimasi pemisahan campuran, ada hal yang perlu diperhatikan yaitu partikel yang bercampur harus mempunyai perbedaan titik didih yang besar, agar kita dapat memperoleh tingkat kemurnian yang tinggi (Shevla, 2010).

V.   ALAT DAN BAHAN
                              5.1  Alat
Adapun alat yang digunakan adalah
1.      Gelas kimia 100 mL
2.      Bunsen
3.      Kaki tiga
4.      Kawat kasa
5.      Corong Buchner
6.      Cawan penguap
7.      Gelas wool

5.2  Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah
1.      Air suling
2.      Asam benzoate
3.      Air panas
4.      Naftalen
5.      Es
6.      Kertas saring

VI. PROSEDUR KERJA
6.1  Percobaan Rekristalisasi
2 Gelas kimia 100 mL
ð  Dimasukan 50 mL air suling
ð  Dipanaskan air suling hingga timbul gelembung-gelembung
ð  Dimasukan 0,5 asam benzoat tercemar kedalam gelas kimia yang lain
ð  Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit
ð  Diaduk hingga semua larut
Corong buchner
ð  Disaring campuran tersebut dalam keadaan panas
ð  Ditampung filtratnya dalam gelas kimia
ð  Disiram endapan yang tertinggal dengan air panas
ð  Dijenuhkan dan didinginkan hingga terbentuk Kristal
ð  Didingankan dalam es jika tidak terbentuk Kristal
ð  Disaring Kristal yang terbentuk
ð  Dikeringkan
ð  Diuji titik leleh dan bentuk kristalnya
ð  Dibandingkan dengan data yang ada dalam hand book

6.2  Sublimasi
Cawan penguap
ð  Dimasukan 1-2 gram naftalen
ð  Ditutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah dibuat lubang-lubang kecil
Corong
ð  Disumbat corong dengan gelas wool atau kapas
Cawan penguap
ð  Diletakkan cawan diatas kasa dari pembakar
ð  Dinyalakan api dan dipanaskan dengan api yang nyala kecil
ð  Dihentikan pembakaran setelah semua zat yang akan disublimasi habis
ð  Dikumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong
ð  Diuji titik leleh dan bentuk kristalnya
ð  Dicocokkan dengan data hand book

Link video praktikum dapat dilihat dibawah ini:

PERMASALAHAN:
  1. Mengapa kapur barus harus dicampurkan tanah terlebih dahulu sebelum dipanaskan?
  2. Apa yang menyebabkan pada kapur barus yang berwarna orange penguapan yang terjadi berjalan sempurna sedangkan pada kapur barus yang berwarna hijau dan merah penguapan tidak berjalan sempurna
  3. Mengapa kristal yang terbentuk dari kapur barus berada diatas permukaan gelas kimia?







Selasa, 18 Februari 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
PERCOBAAN 02

LAPORAN KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH




DISUSUN OLEH:
NAMA: RADIAH
NIM: A1C118005
         KELAS: REGULER A 2018

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020




VII. TUJUAN PENGAMATAN
·         Praktikan diharapkan dapat  memahami prinsip prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni.
·         Praktikan diharapkan dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.   
·         Praktikan diharapkan dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni.
·         Praktikan diharapkan dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel.  
 VIII. MANFAAT PRAKTIKUM
Adapun maanfaat diadakan praktikum pada percobaan Kalibrasi Termometer Dan Penentuan Titik leleh adalah
1.    Dengan dilakukannya praktikum ini praktikan dapat mengukur titik leleh suatu senyawa murni dengan mengamati suhunya pada termometer.
2.    Praktikan dengan mudah menentukan mana senyawa yang murni dan senyawa yang mengandung zat mengotor
3.    Dengan dilakukannya praktikum dapat mengetahui bagaimana cara mengkalibrasi  termometer sebelum digunakan untuk mengukur titik leleh suatu senyawa murni
10.1 kalibrasi termometer
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan termometer kedalam campuran bubuk es dan air yang berada didalam Erlenmeyer 250 mL hinggal ujungnya menyentuh campuran tersebut. Disumbat leher Erlenmeyer dengan gabus, diukur suhunya
0◦ C
2.
Dimasukkan termometer kedalam air yang sedang dipanaskan dengan bunsen, diukur suhunya sampai air mendidih dan suhunya konstan
100◦ C

10.2 Penentuan Titik Leleh
10.2.1 Senyawa Murni
Nama senyawa
Pelarut
Suhu tepat meleleh
Suhu meleleh seluruhnya
 
Manual
 MPA
Manual
MPA
Glukosa
Minyak
120◦ C
160,72◦ C
140◦ C
180◦ C
Naftalen
Minyak
78◦ C
85◦ C
84◦ C
100◦ C
Maltosa
Minyak
105◦ C
90◦ C
107◦ C
102◦ C
Beta-naftol
Minyak
105◦ C
115◦ C
115◦ C
115◦ C
Asam benzoat
Minyak
98◦ C
140◦ C
150◦ C
120◦ C







10.2.2 Senyawa Campuran
Campuran
Perbandingan 1 : 1
Perbandingan 1 : 3
Perbandingan 3 : 1
Tepat meleleh
Seluruhnya meleleh
Tepat meleleh
Seluruhnya meleleh
Tepat meleleh
Seluruhnya meleleh
Glukosa : beta naftol
130◦ C
140◦ C
146◦ C
150◦ C
138◦ C
149◦ C
Naftalen : glukosa
100◦ C
148◦ C
148◦ C
155◦ C
130◦ C
146◦ C
Asam benzoat : maltosa
110◦ C
120◦ C
100◦ C
155◦ C
97◦ C
135◦ C
Maltosa : naftalen
120◦ C
122◦ C
110◦ C
114◦ C
113◦ C
115◦ C
Beta naftol : asam benzoat
88◦ C
92◦ C
90◦ C
103◦ C
85◦ C
120◦ C

10.3 Demonstrasi Titik Leleh Dengan Mpa (Melting Point Apparatus)
Nama Senyawa
Titik Leleh
Tepat Meleleh
Seluruhnya Meleleh
Glukosa
160,72◦ C
180◦ C
Naftalen
85◦ C
100◦ C
Maltosa
90◦ C
102◦ C
Beta-naftol
115◦ C
               115◦ C
Asam benzoat
140◦ C
120 ◦ C


XI. PEMBAHASAN
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu baik dalam kondisi panas, dingin maupun biasa. Sebelum menggunakan termometer kita harus mengidentifikasi apakah termometer layak digunakan dan bisa berfungsi dengan baik dengan cara kalibrasi termometer. Informasi yang didapatkan dari termometer tentang ketepatan dan keakuratan hasil dalam mengukur suhu suatu objek. Praktikan juga harus memikirkan bagaimana menghindari kerusakan pada termometer dalam penyimpanan agar bisa layak digunakan. 
Titik leleh suatu zat adalah keadaan dimana zat tersebut berubah fasa dari padat menjadi gas. Tingkat kemurnian suatu zat  dapat ditentukan dari perbedaan titik leleh pada saat zat mulai meleleh  sampai dengan zat meleleh seluruhnya. Kita bisa mencoba sendiri mencampurkan dua senyawa murni dengan beberapa variasi perbandingan yaitu 1:0,5, 1:1, dan 1:2 http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/
            
                     
    11.1 Kalibrasi Termometer
Sebelum dimulainya percobaan ini, praktikan harus memeriksa termometer yang ingin dipakai terlebih dahulu dengan cara mengkalibrasi termometer. Tujuan kalibrasi ini adalah untuk mengetahui apakah termometer yang akan digunakan masih dalam keadaan baik atau tidak, serta untuk mengetahui apakah temometer masih memiliki ketepatan dan keakuratan dalam mengukur suatu sampel. Pada percobaan ini, praktikan melakukan kalibrasi termometer dengan menggunakan campuran air dengan batu es dan menggunakan air panas atau air yang sedang dipanaskan. Setelah dilakukannya percobaan diperoleh hasil yaitu yang pertama praktikan mengkalibrasi termometer dengan menggunakan campuran batu es dan air. Termometer dimasukkan kedalam Erlenmeyer yang berisi campuran batu es dan air kemudian leher Erlenmeyer disumbat dengan gabus dan diukur suhunya, suhu yang didapat adalah 0◦ C. yang kedua mengkalibrasi termometer dengan menggunakan air yang sedang dipanaskan atau air mendidih. Termometer dimasukan kedalam Erlenmeyer yang berisi air yang sedang dipanaskan diatas Bunsen. Termometer tersebut diletakan diatas permukaan air dengan jaraknya 1 cm dan diukur suhunya, suhu yang didapat adalah 100◦ C. Diperolehnya suhu pada campuran es dan air sebesar 0◦ C dan suhu pada air yang mendidih sebesar 100◦ C. Ini menunjukkan bahwa termometer yang kami gunakan dalam keadaan baik dan layak digunakan sehingga termometer ini bisa digunakan untuk percobaan berikutnya.
Adapun hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam melakukan kalibrasi termometer adalah kita harus selalu menjaga hal-hal yang dapat mempengaruhi ketidakakuratan dan ketidaktepatan termometer, misalnya hindari kontak langsung tangan dalam memegang termometer. Kontak lansung ini dapat menyebabkan hasil pengukuran suhu tidak tepat dan akurat karena termometer telah terkontaminasi dengan suhu tangan pada saat memegang termometer. Oleh karena itu pada ujung termometer diikat dengan benang agar tidak terjadi kontak lansung atau menyentuh termometer.
      11.2 Penentuan Titik Leleh
Pada percobaan ini kami melakukan percobaan penentuan titik leleh. Pada percobaan Ini kami menggunakan beberapa senyawa murni yaitu ada 5 zat senyawa murni seperti naftalen, glukosa, beta-naftol, asam benzoat dan maltosa. Pada percobaan ini kami melakukan penentuan titik leleh murni dari masing-masing senyawa tersebut. Pada percobaan ini kami menggunakan dengan 2 cara yaitu dengan cara manual dan menggunakan MPA (Melting Point Apparatus). Percobaan ini kami lakukan sesuai dengan prosedur yang ada dipenuntun. Pada percobaan penentuan titik leleh ini, yaitu yang pertama dengan cara manual, pertama-tama dimasukkan masing-masing senyawa murni kedalam pipa kapiler dari salah satu ujung pipa yang terbuka kemudian senyawa tersebut dipindahkan kesalah satu ujung pipa kapiler yang tertutup agar senyawa tersebut tidak terjatuh, setelah itu pipa kapiler diikat disamping termometer menggunakan benang. Lalu, dimasukkan termometer dan pipa kapiler yang telah diikat tadi kedalam kaleng aluminium yang berisi air atau minyak, setelah itu diamati dan dicatat suhu pada saat senyawa tersebut tepat meleleh sampai semua senyawa meleleh. Dan yang kedua dengan menggunakan MPA, pertama-tama dimasukkan masing-masing senyawa murni pada pipa kapiler, kemudian dipindahkan senyawa ke ujung pipa yang tertutup, setelah itu diletakkan pipa kapiler dibagian atas alat MPA  dimana terdapat 3 lubang yang diameternya sekitar 3 mm, lubang yang ditengah diletakkan pipa kapiler yang berisi zat dan kedua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong atau sebagai blanko. Setelah itu, ditekan tombol on pada alat yang telah dihubungkan dengan listrik sehingga kecepatannya akan naik secara konstan, kemudian dicatat suhu saat mulai meleleh dan suhu saat meleleh seluruhnya.
Dari percobaan ini didapatlah hasil masing-masing titik leleh senyawa murni dengan menggunakan cara manual dimana  pada senyawa glukosa diperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 120°C dan meleleh seluruhnya adalah 140°C, pada senyawa naftalen diperoleh suhu pada saat meleleh adalah 78°C dan meleleh seluruhnya adalah 84°C, Pada senyawa maltosa diperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 105°C dan meleleh seluruhnya adalah 107°C, Pada senyawa beta-naftol diperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 105°C dan meleleh seluruhnya adalah 115°C, Pada senyawa asam benzoat diperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 98°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 150°C. Dari kelima senyawa tersebut kami menggunakan minyak sebagai pelarutnya.
Selain itu, kami juga melakukan percobaan penentuan titik leleh dengan cara mencampurkan dua senyawa murni dengan menggunakan beberapa perbandingan. Perbandingaanya adalah 1:1, 1:3, 3:1. Adapun bahan-bahan digunakan juga sama seperti diatas yaitu Naftalen, Glukosa, Beta-Naftol, Asam benzoat dan Maltosa. Pada penentuan titik leleh dari campuran dua senyawa tersebut dilakukan dengan cara manual. Adapun perbandingan dua senyawa ini adalah glukosa : beta-naftol, naftalen  : glukosa, asam benzoat : maltosa, maltosa : naftalen dan beta-naftol : asam benzoate. 
Hasil yang kami peroleh dari percobaan ini adalah pada perbandingan 1:1 pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni memiliki titik leleh 146°C dan beta naftol murni memiliki titik leleh 271°C. Pada Saat dilakukan pencampuran senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 130°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 140°C. Pada saat pencampuran naftalen dan glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 100°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 148°C Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 110°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 120°C. Pada saat pencampuran  maltosa dan naftalen. maltosa murni memiliki titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 120°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 122°C . Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki titik leleh 271°C dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C . Saat dilakukan pencampuran senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai meleleh adalah 88°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 92°C.
Yang kedua Hasil yang kami peroleh dari percobaan ini adalah pada perbandingan 1:3 pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni memiliki titik leleh 146°C dan beta naftol murni memiliki titik leleh 271°C. Pada Saat dilakukan pencampuran senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 146°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 150°C. Pada saat pencampuran naftalen dan glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 148°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 155°C Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 100°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 155°C. Pada saat pencampuran  maltosa dan naftalen. maltosa murni memiliki titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 110°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 114°C . Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki titik leleh 271°C dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C . Saat dilakukan pencampuran senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai meleleh adalah 90°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 103°C.
Yang ketiga Hasil yang kami peroleh dari percobaan ini adalah pada perbandingan 3:1 pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni memiliki titik leleh 146°C dan beta naftol murni memiliki titik leleh 271°C. Pada Saat dilakukan pencampuran senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 138°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 149°C. Pada saat pencampuran naftalen dan glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 130°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 146°C Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 97°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 135°C. Pada saat pencampuran  maltosa dan naftalen. maltosa murni memiliki titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 113°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 115°C . Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki titik leleh 271°C dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 85°C . Saat dilakukan pencampuran senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai meleleh adalah 90°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 120°C.


11.3 Demonstrasi Titik Leleh Dengan MPA (Melting Point Apparatus)

           Pada percobaan ini kita menggunakan mesin MPA untuk mengukur titik leleh beberapa senyawa murni. Senyawa murni yang digunakan sama seperti percobaan penentuan titik leleh yaitu menggunakan glukosa, beta-naftol, maltosa, asam benzoate, dan naftalen. Yang pertama masukan senyawa murni kedalam pipa kapiler kemudian dipindahkan keujung yeng tertutup setelah itu diletakkan pipa kapiler dibagian atas alat MPA dimana terdapat 3 lubang yang diameternya sekitar 3 mm, lubang yang ditengah diletakkan pipa kapiler yang berisi zat dan kedua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong atau sebagai blanko. Setelah itu, ditekan tombol on pada alat. Hasil yang diperoleh pada Titik leleh senyawa glukosa adalah pada suhu tepat meleleh 160,72°C dan meleleh seluruhnya 180°C, titik leleh senyawa naftalen adalah pada suhu tepat meleleh 85°C dan meleleh seluruhnya 100°C, Titik leleh senyawa maltosa adalah pada suhu tepat meleleh 90°C dan meleleh seluruhnya 100°C, Titik leleh senyawa beta-naftol adalah pada suhu tepat meleleh 115°C dan meleleh seluruhnya 115°C, dan Titik leleh senyawa asam benzoat adalah pada suhu tepat meleleh 140 °C dan meleleh seluruhnya 120 °C




XII. PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
1.      Mengapa pada saat kalibrasi termometer menggunakan batu es yang ditambahkan air dan air mendidih harus dilakukan penyumbatan pada leher erlenmeyer?
2.      Pada percobaan penentuan titik leleh glukosa kita menggunakan minyak sebagai pelarut agar glukosa meleleh. Mengapa kita harus menggunakan minyak bukannya air?
3.      Pada percobaan ini kita menggunakan 2 cara yaitu secara manual dan menggunakan MPA. Dari 2 cara ini mana yang paling efektif digunakan agar mendapatkan hasil yang tepat dan akurat? Sertakan alasannya?

XIII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “kalibrasi termometer dan penentuan titik leleh” adalah
1.   Prinsip- prinsip dalam penentuan titik leleh senyawa murni adalah titik leleh suatu senyawa murni dapat dilihat pada saat senyawa murni tepat meleleh dan seluruhnya meleleh menggunakan pelarut yang sesuai dengan senyawa murni misalnya air dan minyak untuk melelehkan senyawa murni tersebut. Penentuan titik leleh senyawa murni ditentukan oleh trayek titik lelehnhya.
2.  Dilakukan kalibrasi pada termometer sebelum kita gunakan untuk mengukur titik leleh adalah untuk memastikan apakah termometer layak kita gunakan atau tidak serta agar kita dalam mengukur titik leleh suatu zat murni memperoleh hasil yang akurat dan tepat.
3.  Cara yang digunakan untuk membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa tidak murni adalah dengan melihat titik leleh senyawa tersebut dimana jika senyawa tersebut tidak murni akan terjadi penyimpangan dari titik leleh murni, penyimpangan tersebut ditandai dengan penurunan titik lelehnya. Semakin tinggi perbedaan suhu maka semakin kecil tingkat kemurnian zatnya. Sebaliknya jika semakin kecil perbedaan suhu maka semakin besar juga tingkat kemurnian zatnya.
4.  Dalam melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni ada beberapa sampel yang diuji yaitu glukosa, maltosa, beta naftol, naftalen dan asam benzoat. Setelah melakukan pengujian kita harus mengamati titik leleh senyawa murni tersebut pada saat tepat meleleh dan seluruhnya meleleh pada termometer.

XIV. DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Fisika Dasar. Jakarta: Erlangga

Oxtoby. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga

Pvdek, T. 2003. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga

Syamsurizal. 2019. Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh. http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/. Diakses pada tanggal 10 Februari 2020

Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi

XV. LAMPIRAN


Gambar 1. penimbangan pipa kapiler sebelum dimasukan glukosa kedalamnya

Gambar 2. Dimasukan batu es kedalam labu erlenmeyer
Gambar 3. Bahan yang digunakan yaitu senyawa glukosa

Gambar 4. Glukosa mulai meleleh semuanya didalam mesin MPA
Gambar 5. Alat-alat yang digunakan

Link video praktikum:










Praktikum Kimia Anorganik (Nitrogen)

 NITROGEN DISUSUN OLEH: NAMA: RADIAH NIM: A1C118005          KELAS: REGULER A 2018 DOSEN PENGAMPU: Drs. Abu Bakar, M. Pd ASI...