Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si
2020
VII. TUJUAN PENGAMATAN
·
Praktikan
diharapkan dapat memahami prinsip
prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni.
·
Praktikan
diharapkan dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk
penentuan titik leleh suatu senyawa murni.
·
Praktikan
diharapkan dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang
tidak murni.
·
Praktikan
diharapkan dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang
diberikan sebagai sampel.
VIII. MANFAAT
PRAKTIKUM
Adapun maanfaat diadakan praktikum pada percobaan
Kalibrasi Termometer Dan Penentuan Titik leleh adalah
1. Dengan
dilakukannya praktikum ini praktikan dapat mengukur titik leleh suatu senyawa
murni dengan mengamati suhunya pada termometer.
2. Praktikan
dengan mudah menentukan mana senyawa yang murni dan senyawa yang mengandung zat
mengotor
3. Dengan
dilakukannya praktikum dapat mengetahui bagaimana cara mengkalibrasi termometer sebelum digunakan untuk mengukur
titik leleh suatu senyawa murni
10.1 kalibrasi
termometer
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
1.
|
Dimasukkan
termometer kedalam
campuran bubuk es dan air yang berada didalam
Erlenmeyer 250 mL hinggal ujungnya menyentuh campuran tersebut. Disumbat
leher Erlenmeyer dengan gabus, diukur suhunya
|
0◦ C
|
2.
|
Dimasukkan
termometer kedalam air yang sedang dipanaskan dengan bunsen, diukur suhunya
sampai air mendidih dan suhunya konstan
|
100◦ C
|
10.2 Penentuan
Titik Leleh
10.2.1
Senyawa
Murni
Nama senyawa
|
Pelarut
|
Suhu tepat meleleh
|
Suhu meleleh seluruhnya
|
Manual
|
|
Manual
|
|
|
|
Minyak
|
120◦ C
|
160,72◦
C
|
140◦ C
|
180◦ C
|
Naftalen
|
Minyak
|
78◦
C
|
85◦ C
|
84◦
C
|
100◦ C
|
Maltosa
|
Minyak
|
105◦ C
|
90◦
C
|
107◦ C
|
102◦
C
|
Beta-naftol
|
Minyak
|
105◦
C
|
|
115◦
C
|
|
|
|
|
98◦ C
|
|
150◦ C
|
|
|
|
|
|
|
|
10.2.2
Senyawa
Campuran
Campuran
|
Perbandingan 1 : 1
|
Perbandingan 1 : 3
|
Perbandingan 3 : 1
|
Tepat meleleh
|
Seluruhnya meleleh
|
Tepat meleleh
|
Seluruhnya meleleh
|
Tepat meleleh
|
Seluruhnya meleleh
|
Glukosa
: beta naftol
|
130◦ C
|
140◦ C
|
146◦ C
|
150◦ C
|
138◦ C
|
149◦ C
|
Naftalen
: glukosa
|
100◦ C
|
148◦ C
|
148◦ C
|
155◦ C
|
130◦ C
|
146◦ C
|
Asam
benzoat : maltosa
|
110◦ C
|
120◦ C
|
100◦ C
|
155◦ C
|
97◦ C
|
135◦ C
|
Maltosa
: naftalen
|
120◦ C
|
122◦ C
|
110◦ C
|
114◦ C
|
113◦ C
|
115◦ C
|
Beta
naftol : asam benzoat
|
88◦ C
|
92◦ C
|
90◦ C
|
103◦ C
|
85◦ C
|
120◦ C
|
10.3 Demonstrasi Titik Leleh
Dengan Mpa (Melting Point Apparatus)
Nama Senyawa
|
Titik Leleh
|
Tepat Meleleh
|
Seluruhnya Meleleh
|
Glukosa
|
160,72◦
C
|
180◦ C
|
Naftalen
|
85◦ C
|
100◦ C
|
Maltosa
|
90◦
C
|
102◦
C
|
Beta-naftol
|
|
115◦ C
|
|
|
|
|
XI. PEMBAHASAN
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu baik
dalam kondisi panas,
dingin maupun biasa. Sebelum menggunakan termometer kita harus mengidentifikasi
apakah termometer layak digunakan dan bisa berfungsi dengan baik dengan cara
kalibrasi termometer. Informasi yang didapatkan dari termometer tentang
ketepatan dan keakuratan hasil dalam mengukur suhu suatu objek. Praktikan juga
harus memikirkan bagaimana menghindari kerusakan pada termometer dalam
penyimpanan agar bisa layak digunakan.
Titik
leleh suatu zat adalah keadaan dimana zat tersebut berubah fasa dari padat
menjadi gas. Tingkat kemurnian suatu zat
dapat ditentukan dari perbedaan titik leleh pada saat zat mulai
meleleh sampai dengan zat meleleh
seluruhnya. Kita bisa mencoba sendiri mencampurkan dua senyawa murni dengan
beberapa variasi perbandingan yaitu 1:0,5, 1:1, dan 1:2 http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/
11.1
Kalibrasi Termometer
Sebelum dimulainya percobaan ini, praktikan harus
memeriksa termometer yang ingin dipakai terlebih dahulu dengan cara
mengkalibrasi termometer. Tujuan kalibrasi ini adalah untuk mengetahui apakah termometer
yang akan digunakan masih dalam keadaan baik atau tidak, serta untuk mengetahui
apakah temometer masih memiliki ketepatan dan keakuratan dalam mengukur suatu
sampel. Pada percobaan ini, praktikan melakukan kalibrasi
termometer dengan menggunakan campuran air dengan batu es dan menggunakan air
panas atau air yang sedang dipanaskan. Setelah dilakukannya percobaan diperoleh
hasil yaitu yang pertama praktikan mengkalibrasi termometer dengan menggunakan
campuran batu es dan air. Termometer dimasukkan kedalam Erlenmeyer yang berisi
campuran batu es dan air kemudian leher Erlenmeyer disumbat dengan gabus dan
diukur suhunya, suhu yang didapat adalah 0◦
C. yang kedua mengkalibrasi termometer dengan
menggunakan air yang sedang dipanaskan atau air mendidih. Termometer dimasukan
kedalam Erlenmeyer yang berisi air yang sedang dipanaskan diatas Bunsen.
Termometer tersebut diletakan diatas permukaan air dengan jaraknya 1 cm dan
diukur suhunya, suhu yang didapat adalah 100◦
C. Diperolehnya suhu pada campuran es dan air sebesar 0◦
C dan suhu pada air yang mendidih sebesar 100◦
C. Ini menunjukkan bahwa termometer yang kami gunakan
dalam keadaan baik dan layak digunakan sehingga termometer ini bisa digunakan
untuk percobaan berikutnya.
Adapun hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam melakukan
kalibrasi termometer adalah kita harus selalu menjaga hal-hal yang dapat
mempengaruhi ketidakakuratan dan ketidaktepatan termometer, misalnya hindari
kontak langsung tangan dalam memegang termometer. Kontak lansung ini dapat
menyebabkan hasil pengukuran suhu tidak tepat dan akurat karena termometer
telah terkontaminasi dengan suhu tangan pada saat memegang termometer. Oleh
karena itu pada ujung termometer diikat dengan benang agar tidak terjadi kontak
lansung atau menyentuh termometer.
11.2 Penentuan
Titik Leleh
Pada
percobaan ini kami melakukan percobaan penentuan titik leleh. Pada percobaan Ini kami menggunakan beberapa senyawa
murni yaitu ada 5 zat senyawa murni seperti naftalen,
glukosa, beta-naftol, asam benzoat dan maltosa. Pada percobaan ini kami
melakukan penentuan titik leleh murni dari masing-masing senyawa tersebut. Pada percobaan ini kami menggunakan dengan 2 cara yaitu
dengan cara manual dan menggunakan MPA (Melting Point Apparatus). Percobaan ini
kami lakukan sesuai dengan prosedur
yang ada dipenuntun.
Pada percobaan penentuan titik leleh ini, yaitu yang pertama dengan cara
manual, pertama-tama dimasukkan masing-masing senyawa murni kedalam pipa kapiler dari salah satu ujung pipa yang terbuka kemudian
senyawa tersebut dipindahkan kesalah satu ujung pipa
kapiler yang tertutup agar senyawa tersebut tidak terjatuh, setelah itu pipa
kapiler diikat disamping termometer menggunakan
benang. Lalu, dimasukkan termometer dan pipa kapiler yang telah diikat
tadi kedalam kaleng aluminium yang berisi air atau minyak,
setelah itu diamati dan dicatat suhu pada saat senyawa tersebut tepat meleleh
sampai semua senyawa meleleh. Dan yang
kedua dengan menggunakan MPA, pertama-tama dimasukkan
masing-masing senyawa murni pada pipa kapiler, kemudian dipindahkan senyawa ke ujung pipa yang tertutup,
setelah itu diletakkan pipa kapiler dibagian atas alat
MPA dimana terdapat 3 lubang yang
diameternya sekitar 3 mm, lubang yang ditengah diletakkan pipa kapiler yang
berisi zat dan kedua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong atau sebagai
blanko. Setelah itu, ditekan tombol on pada alat yang telah dihubungkan dengan
listrik sehingga kecepatannya akan naik secara konstan, kemudian dicatat suhu
saat mulai meleleh dan suhu saat meleleh seluruhnya.
Dari
percobaan ini didapatlah hasil masing-masing
titik leleh senyawa murni dengan menggunakan cara manual dimana pada
senyawa
glukosa diperoleh suhu pada saat tepat meleleh adalah 120°C dan
meleleh seluruhnya adalah 140°C, pada senyawa naftalen diperoleh suhu pada saat meleleh adalah
78°C dan meleleh seluruhnya adalah 84°C, Pada senyawa maltosa diperoleh suhu
pada saat tepat meleleh adalah
105°C dan meleleh seluruhnya adalah 107°C, Pada senyawa beta-naftol diperoleh suhu pada saat tepat meleleh
adalah 105°C dan meleleh seluruhnya adalah
115°C,
Pada senyawa asam benzoat diperoleh
suhu pada saat tepat meleleh adalah
98°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 150°C.
Dari kelima senyawa tersebut kami menggunakan minyak sebagai pelarutnya.
Selain
itu, kami juga melakukan percobaan
penentuan titik leleh dengan cara mencampurkan dua senyawa murni dengan menggunakan beberapa perbandingan.
Perbandingaanya adalah 1:1, 1:3, 3:1. Adapun bahan-bahan digunakan juga sama
seperti diatas yaitu Naftalen, Glukosa, Beta-Naftol, Asam benzoat dan Maltosa.
Pada penentuan titik leleh dari campuran dua senyawa tersebut dilakukan dengan cara manual. Adapun perbandingan dua senyawa ini adalah glukosa :
beta-naftol, naftalen : glukosa, asam
benzoat : maltosa, maltosa : naftalen dan beta-naftol : asam benzoate.
Hasil
yang kami peroleh dari percobaan
ini adalah pada
perbandingan 1:1
pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni memiliki titik leleh 146°C dan beta naftol murni
memiliki titik leleh 271°C.
Pada Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat
meleleh adalah 130°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 140°C. Pada saat pencampuran naftalen dan
glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki
titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan
glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 100°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 148°C
Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik
leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh
adalah 110°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 120°C.
Pada saat pencampuran maltosa
dan naftalen. maltosa murni memiliki
titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan
pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat
meleleh adalah 120°C
dan meleleh seluruhnya pada suhu 122°C
. Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki
titik leleh 271°C
dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C . Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai
meleleh adalah 88°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 92°C.
Yang kedua Hasil yang kami peroleh dari percobaan ini
adalah pada
perbandingan 1:3
pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni memiliki titik leleh 146°C dan beta naftol murni
memiliki titik leleh 271°C.
Pada Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat
meleleh adalah 146°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 150°C. Pada saat pencampuran naftalen dan
glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki
titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan
glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 148°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 155°C
Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik
leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh
adalah 100°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 155°C.
Pada saat pencampuran maltosa
dan naftalen. maltosa murni memiliki
titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan
pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat
meleleh adalah 110°C
dan meleleh seluruhnya pada suhu 114°C
. Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki
titik leleh 271°C
dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 121°C . Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai
meleleh adalah 90°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 103°C.
Yang ketiga Hasil yang kami
peroleh dari percobaan ini
adalah pada
perbandingan 3:1 pada pencampuran glukosa dan beta-naftol. Glukosa murni
memiliki titik leleh 146°C
dan beta naftol murni memiliki titik leleh 271°C.
Pada Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni glukosa dan beta-naftol kita memperoleh suhu pada saat tepat
meleleh adalah 138°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 149°C. Pada saat pencampuran naftalen dan
glukosa. Naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C dan glukosa murni memiliki
titik leleh 146°C. Saat dilakukan pencampuran senyawa murni naftalen dan
glukosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh adalah 130°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 146°C
Pada pencampuran asam benzoat dan maltosa. Asam benzoat murni memiliki titik
leleh 121°C dan maltosa murni memiliki titik leleh 102°C. Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni asam benzoat dan maltosa kita memperoleh suhu saat tepat meleleh
adalah 97°C dan meleleh seluruhnya
pada suhu 135°C.
Pada saat pencampuran maltosa
dan naftalen. maltosa murni memiliki
titik leleh 102°C dan naftalen murni memiliki titik leleh 79,9°C. Saat dilakukan
pencampuran senyawa murni maltosa dan naftalen kita memperoleh suhu saat tepat
meleleh adalah 113°C
dan meleleh seluruhnya pada suhu 115°C
. Pada pencampuran beta-naftol dan asam benzoat. Beta-naftol murni memiliki
titik leleh 271°C
dan asam benzoat murni memiliki titik leleh 85°C . Saat dilakukan pencampuran
senyawa murni beta-naftol dan asam benzoat kita memperoleh suhu pada saat mulai
meleleh adalah 90°C dan meleleh seluruhnya pada suhu 120°C.
11.3 Demonstrasi Titik Leleh Dengan MPA (Melting Point
Apparatus)
Pada percobaan
ini kita menggunakan mesin MPA untuk mengukur titik leleh beberapa senyawa
murni. Senyawa murni yang digunakan sama seperti percobaan penentuan titik
leleh yaitu menggunakan glukosa, beta-naftol, maltosa, asam benzoate, dan
naftalen. Yang pertama masukan senyawa murni kedalam pipa kapiler kemudian
dipindahkan keujung yeng tertutup setelah itu diletakkan
pipa kapiler dibagian atas alat MPA dimana terdapat 3 lubang yang diameternya
sekitar 3 mm, lubang yang ditengah diletakkan pipa kapiler yang berisi zat dan
kedua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong atau sebagai blanko. Setelah
itu, ditekan tombol on pada alat.
Hasil yang diperoleh pada Titik leleh senyawa glukosa adalah pada suhu tepat
meleleh 160,72°C
dan meleleh seluruhnya 180°C, titik leleh senyawa naftalen adalah pada suhu tepat
meleleh 85°C
dan meleleh seluruhnya 100°C, Titik leleh senyawa maltosa adalah pada suhu tepat
meleleh 90°C
dan meleleh seluruhnya 100°C, Titik leleh senyawa beta-naftol adalah pada suhu
tepat meleleh 115°C
dan meleleh seluruhnya 115°C,
dan Titik leleh senyawa asam benzoat adalah pada suhu tepat meleleh 140 °C dan meleleh seluruhnya 120 °C
XII. PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
1.
Mengapa pada saat
kalibrasi termometer menggunakan batu es yang ditambahkan air dan air mendidih
harus dilakukan penyumbatan pada leher erlenmeyer?
2.
Pada percobaan
penentuan titik leleh glukosa kita menggunakan minyak sebagai pelarut agar
glukosa meleleh. Mengapa kita harus menggunakan minyak bukannya air?
3. Pada percobaan ini kita menggunakan 2 cara yaitu
secara manual dan menggunakan MPA. Dari 2 cara ini mana yang paling efektif
digunakan agar mendapatkan hasil yang tepat dan akurat? Sertakan alasannya?
XIII. KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “kalibrasi termometer dan
penentuan titik leleh” adalah
1. Prinsip-
prinsip dalam penentuan titik leleh senyawa murni adalah titik leleh suatu
senyawa murni dapat dilihat pada saat senyawa murni tepat meleleh dan
seluruhnya meleleh menggunakan pelarut yang sesuai dengan senyawa murni
misalnya air dan minyak untuk melelehkan senyawa murni tersebut. Penentuan
titik leleh senyawa murni ditentukan oleh trayek titik lelehnhya.
2. Dilakukan
kalibrasi pada termometer sebelum kita gunakan untuk mengukur titik leleh
adalah untuk memastikan apakah termometer layak kita gunakan atau tidak serta
agar kita dalam mengukur titik leleh suatu zat murni memperoleh hasil yang
akurat dan tepat.
3. Cara
yang digunakan untuk membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa
tidak murni adalah dengan melihat titik leleh senyawa tersebut dimana jika
senyawa tersebut tidak murni akan terjadi penyimpangan dari titik leleh murni,
penyimpangan tersebut ditandai dengan penurunan titik lelehnya. Semakin tinggi
perbedaan suhu maka semakin kecil tingkat kemurnian zatnya. Sebaliknya jika
semakin kecil perbedaan suhu maka semakin besar juga tingkat kemurnian zatnya.
4. Dalam
melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni ada beberapa sampel yang
diuji yaitu glukosa, maltosa, beta naftol, naftalen dan asam benzoat. Setelah
melakukan pengujian kita harus mengamati titik leleh senyawa murni tersebut
pada saat tepat meleleh dan seluruhnya meleleh pada termometer.
XIV. DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Fisika Dasar. Jakarta: Erlangga
Oxtoby. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga
Pvdek, T. 2003. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
Syamsurizal. 2019. Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh. http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/. Diakses pada tanggal 10 Februari 2020
Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I.
Jambi: Universitas Jambi
XV. LAMPIRAN
Gambar 1. penimbangan pipa kapiler sebelum dimasukan glukosa kedalamnya
Gambar 2. Dimasukan batu es kedalam labu erlenmeyer
Gambar 3. Bahan yang digunakan yaitu senyawa glukosa
Gambar 4. Glukosa mulai meleleh semuanya didalam mesin MPA
Gambar 5. Alat-alat yang digunakan
Link video praktikum: