Selasa, 17 Maret 2020

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
PERCOBAAN 05

JURNAL REAKSI-REAKSI ALDEHID DAN KETON


DISUSUN OLEH:
NAMA: RADIAH
NIM: A1C118005
         KELAS: REGULER A 2018

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020

PERCOBAAN KE 05

I.                    JUDUL                               : REAKSI-REAKSI ALDEHIDA DAN KETON
II.                 HARI, TANGGAL            : RABU,  MARET 2020
III.              TUJUAN PERCOBAAN   :
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
1.      Dapat memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil
2.      Dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
3.      Dapat menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan
aldehid dan keton

IV.              PRINSIP TEORI
Gugus karbonil (C=O) adalah gugus yang sama yang dimiliki oleh kedua senyawa senyawa ini yaitu aldehid dan keton. Sifat karbonil sama dengan sifat reaksi pada umumnya. Pada suatu pereaksi yang sama, aldehid bereaksi lebih cepat daripada keton. Mengapa demikian? Karena atom karbon karbonil dari aldehid kurang terlindungi daripada atom karbon karbonil dari keton. Pada praktikum kali ini akan ditentukan persamaan maupun perbedaan yang terdapat pada reaksi aldehid dan keton.
Perbedaan antara aldehid dan keton adalah dimana pada aldehid sangat mudah terjadinya reaksi oksidasi menjadi asam karboksilat yang didalamnya terdapat jumlah atom karbon yang sama banyaknya sedangkan pada keton tidak terjadi reaksi oksidasi yang sama dengan aldehid karena dalam oksidasi ikatan karbon-karbon terputus dan menghasilkan dua asam karboksilat dengan jumlah atom karbon masing-masing lebih sedikit daripada keton yang sebelumnya (Tim Kimia Organik I, 2016).

Prinsip dasar yang harus dipahami dalam mengetahui jenis-jenis reaksi yang terjadi pada gugus karbonil yaitu aldehid dan keton. Senyawa aldehid dan keton adalah molekul polar, dikatakan molekul polar karena pada aldehid maupun keton memiliki suatu ikatan karbonil yang memungkinkan terbentuknya momen dipol diantara ikatan rangkap karbon dan oksigen. Terbentuknya momen dipol disekitar ikatan karbonil akan menjadikan senyawa karbonil memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan alkena dengan berat molekul yang sama. Senyawa-senyawa aldehid maupun keton sama-sama bertindak sebagai akseptor ikatan hidrogen. Hal inilah yang menyebabkan aldehid dan keton dapat larut dalam air. Senyawa-senyawa keton banyak digunakan sebagai pelarut khususnya aseton. Dimana aseton bisa larut didalam air maupun larut didalam pelarut organik. Aseton juga sering disebut dengan pelarut polar atau pelarut aprotik (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/20/reaksi-reaksi-aldehid-dan-keton198/).

Menurut Fessenden (1992), ada beberapa perbedaan antara aldehid dan keton khususnya pada sifat dan struktur yang dapat mempengaruhi antara lain:
1.      Aldehid lebih mudah mengalami oksidasi daripada keton yang sulit beroksidasi
2.      Aldehid lebih reaktif daripada keton, walaupun menggunakan suatu reagen yang sama
3.      Aldehid jika mengalami oksidasi akan menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama sedangkan untuk keton tidak, karena keton mengalami pemutusan ikatan karbon-karbon yang dapat menghasilkan 2 asam karboksilat yang jumlah atom karbonnya lebih sedikit dari keton sebelumnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan dalam membedakan mana itu senyawa aldehid maupun senyawa keton adalah dengan melakukan uji tollens. Selain uji tollens dalam membedakan senyawa aldehid dan keton adalah dengan melakukan uji fehling. Aldehid lebih mudah mengalami oksidasi daripada keton. Oksidasi pada aldehid akan menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama (Hart, 1990).

Menurut sahidin (2011), Dalam membedakan suatu senyawa tersebut mengandung senyawa aldehid atau keton adalah dengan melakukan beberapa uji diantaranya adalah
1.      Uji asam kromat
Uji asam kromat adalah uji yang digunakan untuk membedakan suatu senyawa tersebut termasuk aldehid atau keton. Dimana pada aldehid mudah mengalami oksidasi menjadi asam karboksilat oleh asam kromat. Dalam uji ini ditandai dengan munculnya warna hijau atau hilangnya warna orange dari reagen yang digunakan, dengan munculnya warna hijau ini menunjukkan reaksi yang berlangsung positif. Sedangkan keton tidak memberikan reaksi yang positif terhadap reagen ini.
2.      Uji tollens
Uji tollens adalah uji yang digunakan untuk mengidentifikasi aldehid dan bukan pada keton. Karena keton tidak bereaksi dengan reagen ini, sedangkan aldehid dapat bereaksi dengan reagen ini. Yang termasuk reagen ini adalah pereaksi tollens yaitu larutan ion perak bromide, direduksi oleh aldehid menjadi logam perak dan akan membentuk endapan perak.
3.      Uji benedict
Uji benedict adalah uji untuk mengidentifikasi senyawa aldehid. Aldehid dapat dioksidasi oleh reagen ini menjadi asam dan menunjukkan reaksi positif dengan ditandai munculnya endapan yang berwarna merah bata.


V.                ALAT DAN BAHAN
5.1  Alat
Ø  Tabung reaksi
Ø  Pipet tetes
Ø  Penangas air
Ø  Erlenmeyer
Ø  Batang pengaduk
Ø  Corong Hirsch
Ø  Tabung reaksi besar
Ø  Corong buchner

5.2  Bahan
Ø  Pereaksi tollens
Ø  Larutan perak nitrat 5%
Ø  Larutan NaOH 5%
Ø  Larutan ammonium hidroksida 2%
Ø  Benzaldehid
Ø  Aseton
Ø  Sikloheksanon
Ø  Formalin
Ø  Pereaksi benedict
Ø  Natrium sitrat
Ø  Natrium karbonat
Ø  Larutan CuSO4.5H2O
Ø  Aquades
Ø  Natrium kalium tartrat
Ø  NaOH 10%
Ø  Formaldehid
Ø  n-heptanaldehid
Ø   Larutan NaHSO3
Ø  Es batu
Ø  Etanol
Ø  HCl pekat
Ø  Fenilhidrazin
Ø  Methanol
Ø  Hidrosilamin
Ø  Natrium asetat trihidrat
Ø  Larutan iodium iodida
Ø  Larutan iodium
Ø  Larutan kalium iodida
Ø  Isopropanol
Ø  2-pentanon
Ø  3-pentanon
Ø  4 tabung reaksi

VI.              PROSEDUR KERJA
6.1  Uji cermin kaca, Tollens
      4 Tabung reaksi
ð  dimasukkan pereaksi tollens (dibuat dengan cara memasukkan 2 mL larutan perak nitrat 5% dan ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 5%, kemudian ditambahkan setetes demi setetes larutan ammonium hidroksida 2% sambil diaduk)
ð  diujilah benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formalin
ð  ditambahkan masing-masing dua tetes bahan tersebut kedalam tabung yang ingin diuji
ð  diaduk campuran tersebut
ð  didiamkan selama 10 menit
ð  dipanaskan tabung kedalam penangas air jika tidak terjadi reaksi selama 5 menit
ð  diamati apa yang terjadi
      Hasil       

6.2  Uji Fehling dan Benedict
 4 Tabung reaksi
ð  Dimasukkan 5 mL pereaksi benedict (dibuat dengan cara memasukkan 173 gr larutan natrium sitrat dan ditambahkan 100 gr karbonat kemudian ditambahkan 750 mL aquades, diaduk dan disaring filtratnya, lalu ditambahkan perlahan 17,3 gr CuSO4.5H2O dalam 100 mL air) atau dimasukkan 5 mL pereaksi fehling (larutan A = 69 gr CuSO4.5H2O dalam 1 L air suling)
ð  Dimasukkan 346 gr natrium kalium tartrat atau garam Rochelle didalam larutan NaOH 10% (larutan B)
ð  Ditambahkan kedalam masing-masing tabung beberapa tetes bahan yang akan diuji
ð  Ditempatkan kedalam penangas air selama 10-15 menit
ð  Diujilah formaldehid, n- heptanaldehid, aseton, dan sikloheksanon
ð  diamati apa yang terjadi

6.3  Adisi bisulfit
       Erlenmeyer
ð  dimasukkan 5 mL larutan NaHSO3 jenuh
ð  didinginkan dalam air es
ð  ditambahkan 2,5 mL aseton tetes demi tetes sambil diaduk
ð  ditambahkan 10 mL etanol setelah 5 menit
ð  disaring campuran tersebut dengan corong Hirsch
ð  diamati apa yang terjadi jika ditambahkan beberapa tetes HCl pekat
     Hasil       

6.4  Pengujian dengan fenilhidrazin
      Tabung reaksi besar
ð  dimasukkan 5 mL fenilhidrazin
ð  ditambahkan 10 tetes bahan yang akan diuji
ð  ditutup tabung reaksi
ð  diguncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga terbentuk kristal
ð  disaring dengan corong Hirsch
ð  dicuci dengan sedikit air dingin
ð  direkristalisasi dengan sedikit methanol, dan etanol
ð  dikeringkan dan ditentukan titik lelehnya
ð  dilakukan pengujian terhadap benzaldehid dan sikloheksanon
ð  digunakan cara yang sama pada 2,4-ditrofenilhidrazin
ð  dibuat turunann benzaldehid dan sikloheksanon
ð  ditentukan titik lelehnya
Hasil

1.5  Pembuatan oksim 
 Erlenmeyer
ð  Dimasukkan 1 gr hidroksilamin HCl
ð  Ditambahkan 1,5 gr natrium asetat trihidrat
ð  Ditambahkan 4 mL air
ð  Dipanaskan larutan
ð  Ditambahkan sikloheksanon
ð  Ditutub labu dn digoncangkan selama 1-2 menit
ð  Didinginkan labu dalam lemari es
ð  Dipisahkan campuran dengan corong Hirsch
ð  Dicuci dengan 2 mL air es
ð  Dikeringkan dan ditemtukan titik didihnya
    Hasil

1.6  Reaksi haloform  
 Erlenmeyer
ð  dimasukkan 3 mL larutan NaOH 5%
ð  ditetesi aseton sebanyak 5 tetes
ð  ditambahkan 10 mL larutan iodium iodide
ð  digoncangkan sampai warna coklat tidak hilang lagi
ð  dilakukan pengujian terhadap isopropanol, 2-pentanon dan 3-pentanon
     Hasil

1.7  Kondensasi Aldol 
 Erlenmeyer
ð  Dimasukkan 4 mL larutan NaOH 1%
ð  Ditambahkan 0,5 mL asetaldehid
ð  Diguncangkan dan dicatat bauny
ð  Dididihkan campuran reaksi selama 3 menit
ð  Dicatat hati-hati bau tengik dari krotonaldehid
ð  Disusun peralatan untuk merefluks
ð  Didalam labu, dimasukkkan 50 mL etanol, 1 mL aseton, 2 mL benzaldehid dan 5 mL larutan NaOH 5%
ð  Direfluks campuran selama 5 menit
ð  Didinginkan labu dan dikumpulkan kristal dengan corong Buchner
ð  Direkristalisasi dengan etanol
ð  Ditentukan titik lelehnya
                           Hasil

Link video praktikum dapat dilihat dibawah ini:
https://youtu.be/NX-ievVvLZk

Permasalahan:
1. Mengapa pada uji aldehid dengan menggunakan pereaksi tollens maupun fehling dilakukan proses pemanasan dalam penangas air pada larutan X dan larutan Y?
2. Pada video diatas, didapatlah hasil dimana pada larutan Y yang telah ditetesi pereaksi fehling dan setelah dipanaskan dalam penangas air terbentuknya endapan merah bata. Apa yang menyebabkan larutan Y tersebut terdapat endapan merah bata sedangkan pada larutan X tidak terbentuk endapan merah bata?
3. Mengapa pada uji tollens didapatkan hasil yang berbeda pada larutan X dan larutan Y setelah proses pemanasan?

Selasa, 10 Maret 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
PERCOBAAN 04

LAPORAN REAKSI-REAKSI HIDROKARBON


DISUSUN OLEH:
NAMA: RADIAH
NIM: A1C118005
         KELAS: REGULER A 2018

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020


                 VII.      TUJUAN PENGAMATAN
·      Praktikan diharapkan dapat memahami perbedaan sifat-sifat hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh dan aromatic
·      Praktikan diharapkan dapat membedakan ketiga golongan senyawa hidrokarbon pada jenis reaksi kimia
·      Praktikan diharapkan dapat memahami cara dan teknik pengujian ketiga golongan senyawa hidrokarbon


VIII.  MANFAAT PRAKTIKUM
        Adapun manfaat diadakan praktikum pada percobaan Reaksi-Reaksi Hidrokarbon adalah
1.    Dengan dilakukannya praktikum ini praktikan dapat mengetahui sifat-sifat senyawa hidrokarbon
2.    Praktikan juga bisa mengetahui bagaimana cara menguji suatu senyawa tersebut mengandung senyawa hidrokarbon
3.    Dengan dilakukannya praktikum ini praktikan juga bisa mengidentifikasi suatu senyawa tersebut jenuh, tak jenuh ataupun aromatic
IX.         PROSEDUR KERJA
           https://rhadya99.blogspot.com/2020/03/jurnal-praktikum-kimia-organik-1.html

X.           DATA PENGAMATAN
10.1 Brom dalam karbon tetraklorida
No.
Perlakuan
Hasil
1
            Dimasukkan 1 mL alkana (n-heksana) kedalam tabung reaksi , kemudian ditambahkan 10-15 tetes brom diguncangkan, ditempatkan tabung dalam tempat gelap
           Warna tidak mengalami perubahan
2
            Dimasukkan 1 mL alkana (eter) kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10-15 tetes brom diguncang dalam tempat yang disinari matahari
            Warna berubah dari kuning menjadi bening
3
            Dimasukkan 1 mL eter kedalam tabung reaksi kemudian ditetesi 10 tetes brom dan diguncang campuran tersebut
            Terdapat 2 fasa , yang fasa bagian atas berwarna kuning (brom) dan yang dibagian bawah berwarna putih (eter)
4
            Dimasukkan  1 mL benzena kemudian ditambahkan 1 ml CCl4lalu digoncangkan
            Terdapat 2 lapisan , lapisan atas berwarna bening dan yang bawah berwarna cokelat

10.2 Brom
No.
Perlakuan
Hasil
1.
 1.        Dimasukkan 1 mL Benzen kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 tetes brom, kemudian   dipanaskan selama 5 menit
            Setelah dipanaskan, campuran benzen dan brom menguap (tidak tersisa campuran didalam tabung reaksi)
2.2
  2.          Dimasukkan 1 mL Benzena dan ditambahkan potongan besi (paku), lalu ditetesi 3 tetes brom kemudian dipanaskan selama 5 menit
            Menguap sebagian dan campuran masih tersisa dalam tabung reaksi
           
10.3  Larutan kalium permanganat
No.
   No.                         Perlakuan
                                 Hasil
1.11
   1.      Dimasukkan 1 mL kalium  permanganat kemudian ditetesi 5  tetes n-  heksana didalam tabung reaksi, lalu diguncang tabung reaksi
             Ungu tanpa kemerahan
2.2
   2.        Dimasukkan 1 mL kalium  permanganat kemudian ditetesi 5  tetes eter, lalu diguncang tabung reaksi
            Ungu kemerahan
3.
  3.         Dimasukkan 1 mL  benzena kemudian ditambahkan 2mL   kalium  permanganat, lalu diguncang tabung reaksi
            Warna tetap

10.4  Asam sulfat pekat
No.n      No.
Perlakuan
Hasil
1.1
  1.       Dimasukkan 2 ml asam sulfat  kedalam tabung reaksi 10 tetes eter kemudian diguncang
            Larutan menjadi warna jingga, dan terasa panas pada saat dikocok
2.22
  2.       Dimasukkan 2 ml H2SO4 kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 10 tetes n-heptana , lalu dikocok
            Larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan , lapisan atas bening dan lapisan dibawah agak keruh
           
10.5 Asam nitrat
                10.5.1 Benzena  
No.o.     No.
Perlakuan
Hasil
1.1
 1.        Dicampurkan  asam nitrat  4 ml dan benzena 0,5 ml
             Mengeluarkan asap
2.
 2.        Dimasukkan batu didih
             Mengeluarkan gelembung
3.
 3.        Dididihkan campuran 
             Larutan  berwarna kuning  bening
4.
 4.        Dituang  larutan kedalam es
             Timbul asap dan bau menyengat
           
               10.5.2 Eter
No.
   No.                         Perlakuan
                               Hasil
1.
    1.     Dicampurkan 4 mL   asam nitrat dengan eter
            Timbul gelembung
2.
    2.     Diberi batu didih dan  dipanaskan
            Timbul warna orange  pekat, timbul asap dan bau menyengat
3.
    3.     Dituang  larutan kedalam es
             Larutan kembali berwarna bening  dan bau bayclin
             
10.6 Bahan tak dikenal
No.        No.
Perlakuan
Hasil
1.1
   1.      Ditambahkan 2 ml minyak jelantah + 2 ml air kemudian digoncangkan
            Terdapat 2 lapisan , lapisan atas minyak jelantah dan bagian bawah air
2.
   2.      Ditambahkan 2 ml minyak jelantah  + 2 ml H2SO4 , lalu digoncangkan
            Warnanya berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak sedap serta suhunya lebih panas
3.  33     3.
            Ditambahkan 2 ml minyak jelantah + 2 ml HBr, diguncangkan
            dapat busa dibagian atas, warna minyak memudar kemudian didiamkan warnanya berubah dan membentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah berwarna putih
4. 3
  4.       Ditambahkan 2 ml minyak jelantah + 2 ml HNO3, kemudian diguncangkan
            warna larutan coklat 
5.     5
  5.        Ditambahkan 2 ml benzena + 2 ml air , kemudian  diguncangkan
            Terdapat 2 lapisan, lapisan atas lebih keruh dari pada lapisan bawah , dan dibagian atas ada gelembung
6.
  6.        Ditambahkan 2 ml zat benzena + 2 ml H2SO4, diguncangkan
            Terdapat 2 lapisan, lapisan atas bening dan lapisan bawah keruh
7.
  7.         Ditambahkan 2 ml zat benzen + 2 ml kloroform, diguncangkan
            Terdapat cincin benzena
            Terdapat 2 lapisan atas keruh   dan bagian bawah agak keruh.
            
XI.         PEMBAHASAN
                       Pada percobaan ini yaitu tentang Reaksi-Reaksi Hidrokarbon, praktikan telah berhasil melakukan semua prosedur dengan baik dan benar.
            Senyawa hidrokarbon adalah senyawa pada mengandung dua atom yaitu atom karbon dan hidrogen. Senyawa hidrokarbon ini dapat disebut dengan alkana, alkena dan alkuna. Senyawa Hidrokarbon dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti digunakan untuk memasak, dan bahan bakar pada kendaraan bermotor. Senyawa hidrokarbon dapat dimanfaatkan melalui reaksi reaksi sempurna maupun tidak sempurna. Reaksi hidrokarbon sendiri terdiri dari reaksi hidrokarbon sempurna dan reaksi hidrokarbon tak sempurna. Reaksi-reaksi tersebut dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahan bakar seperti bensin atau minyak tanah. Reaksi hidrokarbon ini dapat terjadi dengan bantuan katalis dengan menggunakan alumunium klorida, adapun kegunaan dari katalis alumunium klorida ini adalah mengubah senyawa hidrokarbon rantai lurus menjadi senyawa hidrokarbon bercabang atau lebih kita kenal dengan isomerasi. Misalnya butana dapat diisomerasi dengan menjadi isobutana yang banyak kita digunakan untuk bahan baku pembuatan isooktana yang sebagai bahan penyusun utama yang dikenal sebagai bahan bakar bensin atau premium. Senyawa hidrokarbon dapat mengalami reaksi subsitusi, dimana pada reaksi ini senyawa hidrokarbon dapat diubah menjadi alkil halide. Reaksi substitusi ini melalui klorinasi atau brominasi. Senyawa hidrogen tak jenuh dapat mengalami pemutusan ikatan rangkapnya melalui reaksi adisi menggunakan berbagai jenis asam halida (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/).

11.1  Brom dalam karbon tetra klorida
Dimasukkan 1 mL alkana (eter) kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10-15 tetes brom diguncang dalam tempat yang disinari matahari, hasil yang diperoleh adalah Warna berubah dari kuning menjadi bening. Yang ketiga adalah Dimasukkan 1 mL eter kedalam tabung reaksi kemudian ditetesi 10 tetes brom dan diguncang campuran tersebut, hasil yang diperoleh adalah Terdapat 2 fasa, yang fasa bagian atas berwarna kuning (brom) dan yang dibagian bawah berwarna putih (eter) yang keempat adalah dimasukkan 1 mL benzena kemudian ditambahkan 1 ml CCl4 lalu digoncangkan, hasil yang diperoleh adalah Terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan yang bawah berwarna cokelat.

11.2  Brom
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji brom dengan menggunakan benzena, brom, potongan besi (paku). Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah memasukkan 1 mL Benzen kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 tetes brom, kemudian   dipanaskan selama 5 menit, hasil yang diperoleh adalah Setelah dipanaskan, campuran benzen dan brom menguap (tidak tersisa campuran didalam tabung reaksi). Yang kedua adalah dimasukkan 1 mL Benzena dan ditambahkan potongan besi (paku), lalu ditetesi 3 tetes brom kemudian dipanaskan selama 5 menit, hasil yag diperoleh adalah campuran menguap sebagian dan campuran tersebut masih tersisa dalam tabung reaksi.

11.3  Larutan kalium permanganat
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji larutan kalium permanganat dengan menggunakan kalium permanganat, eter, dan n-heksana. Pada prosedur ini uji bayer merupakan suatu uji untuk menunjukkan kereaktifan heksana, benzena dan sikloheksana terhadap oksidator kalium permanganate yang merupakan katalis. Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksida, reagensia ini mudah diperoleh karena tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah dimasukkan 1 mL kalium  permanganat kemudian ditetesi 5  tetes n-  heksana didalam tabung reaksi, lalu diguncang tabung reaksi, hasil yang diperoleh adalah warna larutan ungu tanpa kemerahan, yang kedua adalah dimasukkan 1 mL kalium  permanganat kemudian ditetesi 5  tetes eter, lalu diguncang tabung reaksi, hasil yang diperoleh adalah ungu kemerahan, yang ketiga adalah dimasukkan 1 mL  benzena kemudian ditambahkan 2mL   kalium  permanganat, lalu diguncang tabung reaksi, hasil yang diperoleh adalah warna tetap.

11.4  Asam sulfat pekat
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji larutan asam sulfat pekat dengan menggunakan asam sulfat, eter, dan n-heptana. Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah memasukkan 2 ml asam sulfat kedalam tabung reaksi 10 tetes eter kemudian diguncang, hasil yang diperoleh adalah Larutan menjadi warna jingga, dan terasa panas pada saat dikocok. Dan yang kedua adalah dimasukkan 2 ml H2SO4 kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 10 tetes n-heptana, lalu dikocok, hasil yang diperoleh adalah larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas bening dan lapisan dibawah agak keruh.

11.5  Asam nitrat
11.5.1         Benzena
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji larutan asam nitrat dengan menggunakan bahan seperti asam nitrat, benzena, dan es. Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah mencampurkan asam nitrat 4 ml dan benzena 0,5 ml, hasil yang diperoleh campuran tersebut mengeluarkan asap. Yang kedua campuran tersebut dimasukan satu butir batu didih, hasil yang diperoleh adalah campuran mengeluarkan gelembung. Yang ketiga adalah campuran tersebut dididihkan didapatlah larutan berwarna kuning bening. Yang keempat dituangkan campuran tersebut kedalam es, hasil yang diperoleh adalah timbulnya asap dan bau yang menyengat.

11.5.2         Eter
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji larutan asam nitrat dengan menggunakan bahan seperti asam nitrat, eter, dan es. Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah mencampurkan 4 mL asam nitrat dengan eter, hasil yang diperoleh adalah timbul gelembung. Yang kedua campuran tersebut ditambahkan batu didih dan dipanaskan, diperoleh hasil campuran tersebut menimbulkan warna orange pekat, timbul asap dan bau menyengat. Yang ketiga campuran dituangkan kedalam es, hasil yag diperolah adalah Larutan kembali berwarna bening dan bau bayclin.

11.6  Bahan tak dikenal
Pada percobaan ini praktikan melakukan uji larutan asam nitrat dengan menggunakan bahan yang tidak dikenal yaitu minyak jelantah dan benzena, kami juga menggunakan kalium permanganate, air, asam nitrat, asam sulfat, dan kloroform. Kami melakukan prosedur sesuai dengan penuntun dimana yang pertama dilakukan adalah memasukan2 ml minyak jelantah dan ditambahkan 2 ml air kemudian digoncangkan, hasil yang diperoleh adalah terdapat 2 lapisan, lapisan atas minyak jelantah dan bagian bawah air. Yang kedua dimasukan 2 ml minyak jelantah dan ditambahkan 2 ml H2SO4, lalu diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah warnanya berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak sedap serta suhunya lebih panas. Yang ketiga dimasukkan 2 ml minyak jelantah dan ditambahkan 2 ml HBr, diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah terdapat busa dibagian atas, warna minyak memudar kemudian didiamkan warnanya berubah dan membentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah berwarna putih. Yang keempat dimasukkan2 ml minyak jelantah dan ditambahkan 2 ml HNO3, lalu diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah warna larutan coklat. Yang kelima dimasukkan 2 ml benzena dan ditambahkan 2 ml air, kemudian diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah Terdapat 2 lapisan, lapisan atas lebih keruh dari pada lapisan bawah, dan dibagian atas ada gelembung. yang keenam dimasukkan 2 ml zat benzena dan ditambahkan 2 ml H2SO4, diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah Terdapat 2 lapisan, lapisan atas bening dan lapisan bawah keruh. Yang ketujuh dimasukkan 2 ml zat benzen dan ditambahkan2 ml kloroform, diguncangkan, hasil yang diperoleh adalah terdapat cincin benzena dan terdapat 2 lapisan atas keruh   dan bagian bawah agak keruh.

XII.      PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
1.    Mengapa pada uji brom dalam karbon tetraklorida hasil yang didapat pada tempat terang dan tempat gelap berbeda?
2.    Pada percobaan asam nitrat ditambahkan batu didih kedalam campuran, apa fungsi dari baru didih tersebut?
3.    Mengapa pada uji bahan yang tak dikenal, dimana pada minyak jelantah yang dicampurkan dengan KMnO4 menghasikan endapan coklat?

XIII.   KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “Reaksi-Reaksi Hidrokarbon” adalah
1.        Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang tersusun dari dua atom yaitu atom karbon dan hidrogen. Senyawa hidrokarbon terbagi menjadi tiga yaitu senyawa hidrokarbon alifatik (rantai terbuka), alisiklik (rantai tertutup), dan aromatic (rantai lingkaran konjugasi). Senyawa hidrokarbon alifatik terdiri dari senyawa jenuh dan tak jenuh. Dimana senyawa hidrokarbon dikatakan jenuh adalah karena memiliki ikatan tunggal (alkana) dan senyawa hidrokarbon tak jenuh adalah karena memiliki ikatan rangkap baik rangkap 2 atau 3 yang disebut dengan alkena dan alkuna.
2.        Reaksi kimia yang terjadi pada senyawa hidrokarbon terdiri dari reaksi adisi, substitusi dan halogenasi. Reaksi adisi ini biasanya terjadi pada alkena, reaksi substitusi terjadi pada alkuna dan reaksi halogenasi terjadi pada alkana.
3.        Teknik dan pengujian golongan hidrokarbon tergantung pada jenis senyawa hidrokarbon yang akan diuji. Salah satunya dengan uji bayer, dimana kegunaan uji bayer ini untuk mengidentifikasi kereaktifan hidrokarbon alifatik, alisiklik, dan aromatic terhadap oksidator KMnO4 yang merupakan katalis.

XIV.   DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga

Ndra, M.A.J. 1984. Belajar Mudah Kimia Organik Teori Dan Soal-Soal. Bandung: Pustaka

Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Syamsurizal. 2019. Reaksi-Reaksi Hidrokarbonhttp://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/. Diakses pada 2 Maret 2020 pukul 20.30

Tim Kimia Organik I. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi



XV.      LAMPIRAN


Gambar.1 Proses pemanasan pada uji brom

Gambar.2 uji bahan tak dikenal (minyak jelantah) 

                
                Gambar.3 Bahan-bahan yang digunakan

                 
Gambar.4 tabung reaksi yang berisi n-heksana dan brom diletak dibawah sinar matahari

Gambar.5 warna minyak jelantah yang ditetesi dengan larutan asam sulfat,
asam nitrat, kalium permanganat dan asam bromida

Link Video Praktikum: